name='description'/> 2013 | Un-de-fined Cendekia

Pages

Selasa, 24 Desember 2013

[Review] Edensor, Oh-So-Dissapointed Film :(



So guys, kemarin saya nonton Edensor bareng temen. This is one of movies i really wait! Berhubung saya impressed sekali sejak awal dengan novel-novelnya Andrea Hirata, mulai dari Tetralogi Laskar Pelangi, Cinta Dalam Gelas, atau Sebelas Patriot, of course saya ga akan melewatkan buku Edensor (buku ketiga Tetralogi Laskar Pelangi)  yang difilmkan ini.
Buar kalian yang belum tahu, Edensor bercerita tentang perjuangan Ikal dan Arai menuntut ilmu di Sorbonne University, Perancis. Mereka yang hanya anak Belitong biasa diharuskan membiasakan diri hidup di negeri orang yang berbeda kultur dengan Indonesia. Perancis merupakan pijakan awal mereka untuk meraih cita-cita berkeliling Eropa. Cita-cita ini tertancap dalam diri Arai dan Ikal sejak SMA, yang terinspirasi Guru SMA mereka, Pak Balia.

Rabu, 20 November 2013

Ego Para Buruh



Jadi hari Rabu 20 November 2013 kemarin, saya melewati Jl. Soekarno-Hatta Bandung sehabis pulang kuliah. Saat itu ternyata sedang diadakan demo besar-besaran buruh dari seluruh Jawa Barat di Kantor Kementrian Tenaga Kerja. Para demonstran ini dengan tidak tahu dirinya parkir kendaraan mereka (motor, mobil, dan bis) sembarangan di pinggir jalan. Bahkan yang lebih parah, mereka memblokade salah satu ruas jalan untuk dijadikan tempat berunding (mereka membarikade kendaraan mereka dan membuat ruang luas di tengahnya). Alhasil, kemacetan pun tak dapat dihindarkan sampai sejauh radius 3 kilometer. What a selfish way to demand their rights, rite?
Nah, cara mereka menuntut hak benar-benar tidak bisa dianggap bijak. Menggunakan fasilitas umum secara sembarangan dan merugikan orang lain? Hei! Melihatnya saja, orang lain mana mau prihatin dengan kondisi para buruh. Dari puluhan ribu buruh yang datang saat itu, mereka bisa saja melumpuhkan stabilitas kerja kantor-kantor yang ada di sekitarnya; mulai dari waktu, transaksi perdagangan, dan kegiatan lainnya yang jumlah SDM-nya bisa mencapai ratusan ribu orang.

Minggu, 27 Oktober 2013

Antara Fungsi Agen Perubahan Dan Dakwah


Jika melihat mahasiswa-mahasiswa berdemo di depan rektorat, saya pikir mereka merupakan kerumunan yang tidak bermetode. Maaf jika kata-kata tersebut terlalu kasar. Faktanya, hanya 3-5 orang diantara mereka yang memahami tujuan demo tersebut, sementara yang lainnya hanyalah orang-orang yang digusur agar mau ikut berdemo.
Saya akui kekritisan mereka. Mereka orang-orang yang menginginkan perubahan dan tak akan tinggal diam melihat ketidakadilan. Hanya saja, menurut saya ada banyak sekali cara yang lebih baik untuk menuntut sebuah perubahan. Disinilah kemudian LPM memberi andil.

Kamis, 24 Oktober 2013

Memberi Uang Pada Pengemis? No Way!



Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, saat ini sedang ramai-ramainya mengampanyekan ‘tidak memberi uang pada pengemis’. Tentunya gerakan ini didukung oleh warga Bandung yang notabene sudah jengah oleh tingkah pengemis yang semakin pongah. Sebelumnya, Ridwan Kamil pernah bernegosiasi dengan para pengemis untuk berganti profesi menjadi Petugas Kebersihan dengan gaji Rp.700.000 per bulan. Namun, tawaran ini ditolak mentah-mentah para pengemis yang menuntut Emil untuk menggaji mereka 3-10 juta per bulan. Crazy or something??

Minggu, 13 Oktober 2013

“Buku Catatan Josephine”: Another Great Story By Agatha Christie


Penggemar novel misteri mana yang tak kenal Agatha Christie? Dia adalah novelis wanita yang dinobatkan sebagai Ratu Cerita Misteri sampai saat ini. Cerita-cerita detektif buatannya (seperti Hercule Poirot, atau Miss Marple) selalu bisa mempesona pembacanya dengan imajinasi liar penulis, bahkan menjebak  para pembaca untuk berspekulasi menebak ending cerita.
So this is it. “Buku Catatan Josephine” merupakan karya Agatha Christie yang menurut saya (bahkan penulisnya sendiri) adalah salah satu yang terbaik. Karya ini bisa dibilang bersanding dengan karya-karya terbaiknya seperti: “Pembunuhan di Kereta Orient Express”, “Pembunuhan Atas Roger Ackroyd”, ataupun “Sepuluh Anak Negro”. Bahkan diantara keempatnya, saya masih berpikir bahwa “Buku Catatan Josephine”-lah yang terbaik.

“NO BRA DAY”, Don’t Be Pervert!!


Tanggal 13 Oktober 2013 ini diperingati sebagai “No Bra Day” dimana orang-orang mencegah perkembangan korban kanker payudara dengan mengampanyakan 1 hari tanpa bra. Jadi ceritanya, saya lagi buka twitter dan iseng cari topik yang tren. And here it is. #NoBraDay’s Hashtag.
Bukan itu sih yang mau dibicarakan. Saya sempat baca beberapa akun berita yang menulis mengenai Julia Perez yang juga support dengan hari peringatan ini. Jupe dikabarkan mengupload fotonya yang berpose tanpa mengenakan bra, just covered by a huge teddy bear. Dan tentunya komentar-komentar tak mengenakkan mengiringi kiriman ini.

Senin, 07 Januari 2013

BiSNIS ONLINE: UNTUNG DITENGAH PERILAKU KONSUMTIF MASYARAKAT



Seiring dengan semaraknya globalisasi yang selalu digaungkan di seluruh dunia saat ini, rakyat Indonesia seakan tak mau kehilangan momen globalisasi ini. Menurut survey yang dilakukan Nielsen tahun 2011, selama lima tahun terakhir tingkat konsumsi internet masyarakat Indonesia meningkat sampai 22%. Hal ini berkaitan dengan semakin mudahnya akses informasi yang canggih untuk didapatkan.
Mengamati hal ini, para produsen melihat suatu peluang bagi mereka untuk memanfaatkan euforia internet di Indonesia sebagai salah satu media pemasaran mereka. ‘Bisnis Online’, begitulah mereka menamai strategi pemasaran mereka. Bisnis-bisnis ini semakin banyak diminati oleh para pengguna internet. Dengan membuat website, mereka dapat melakukan aktivitas penjualan mereka. Tidak hanya itu, bisnis online ini berkembang dengan terus mengaktifkan diri di dunia blogging, bahkan jejaring sosial, seperti facebook atau twitter.

Bill Kovach: Wartawan Tak Luput Dari Kesalahan



Kisah inspiratif ini datang dari wartawan yang terkenal dengan buku Sembilan Elemen Jurnalisme-nya, Bill Kovach. Pada perilisan bukunya di Medan, ia bercerita mengenai pengalamannya dalam menulis essay tentang Charles Longstreet Weltner dalam buku Profile in Courage for Our Time.
Dalam essay tersebut, ia menjelaskan tentang sosok Weltner, salah satu anggota Kongres Georgia yang terkenal berani. Karena keberaniannya, ia pernah mendapat penghargaan John F. Kennedy Profile in Courage Award yang menghargai sikapnya pada tahun 1966 dalam menentang partainya sendiri yang mencalonkan Maddox, seorang rasialis, sebagai Gubernur Georgia.

Sabtu, 05 Januari 2013

Mengejar mimpi = Idealis ??



“Kejarlah ilmu demi ilmu, jangan mengejar ilmu demi uang”
 
That’s simple word. Pertama kali membaca kata-kata ini, saya dibuat terpekur untuk mendalami makna yang terkandung dalam setiap kata-katanya. Kata-kata ini merujuk pada fakta bahwa terkadang orang-orang masih terlalu fanatis terhadap simbol, ketimbang memaknai simbolnya itu sendiri.
Well, ini tentang bagaimana adat masyarakat dalam menuntut ilmu. Kenyataannya, masih banyak orang yang menuntut ilmu hanya untuk mengejar sertifikat dan ijazah, sementara orientasi mereka dalam mendalami tahun-tahun menuntut ilmu itu sendiri kosong. Mungkin ini disebabkan karena adanya ideologi kapitalis yang terus bercokol dalam kehidupan masyarakat.
Bagaimana tidak? Saat ini rasanya kita dipenuhi pikiran untuk mencari uang dalam memenuhi kebutuhan lahiriah kita. Untuk itu, kita bahkan rela menggadaikan mimpi kita untuk dapat memenuhi hal-hal materialistis tersebut. Lalu bagaimana kita memenuhi kebutuhan batiniyah kita jika kita sibuk mengejar hal materialistis??
Memang kejam dan ironis melihat bagaimana kita harus mengorbankan impian kita untuk bisa keep survive di era globalisasi ini. Betapa banyak orang-orang yang berbondong-bondong masuk jurusan Jurnalistik, Sastra Inggris, or others hanya untuk berakhir bekerja di sebuah bank. Lalu dimana esensinya perjuangan kita bertahun-tahun menuntut ilmu kalau pada akhirnya kita berhenti di satu hal yang tidak ada hubungannya dengan impian, atau lebih jauh lagi, dengan tujuan kita. Dan sebaliknya, betapa terkadang ada orang yang bisa menafkahi batinnya dengan bekerja sesuai impiannya, tapi tidak bisa memunuhi kebutuhan lahirnya.

Resensi Buku “Terapi Berpikir Positif”




Judul Buku       : Terapi Berpikir Positif
Penulis              : Dr. Ibrahim Elfiky
Penerbit            : Penerbit Zaman
Tahun Terbit     : 2012, cetakan ke-27
Halaman           : 347 halaman
Harga               : Rp. 54.000
Ikhtisar
Buku ini berbicara mengenai bagaimana cara untuk mengaktifkan potensi kekuatan pikiran. Dengan potensi ini, manusia dapat terbebas dari belenggu pikiran negatif, dan menjadi pribadi yang penuh semangat, percaya diri dan optimis.
Pengoptimalan potensi ini di press dengan optimal, karena tidak banyak orang tahu bagaimana cara menjadikan kekuatan pikiran menjadi hal yang bermanfaat untuk kehidupan kita. Ini sangat penting dalam pembentukan fokus dalam membangun aspek-aspek dalam mencapai cita-cita yang lebih cerah, dan sukses.

Makna Dakwah Dalam Jurnalistik



Mungkin kata-kata “Saya ingin berdakwah dalam kegiatan jurnalistik” kedengaran terlalu fanatis. Sejujurnya, ucapan ini tidak seharusnya diumbar-umbarkan, karena justru akan memancing kesalahpahaman dari orang lain.
Dari sekian ratus pengertian dakwah yang mengatakan “Dakwah adalah kegiatan mengajak manusia agar kembali pada ajaran islam,” dan lain sebagainya, menurut saya sendiri dakwah memiliki pengertian yang lebih luas daripada itu. Dakwah adalah kegiatan mengajak manusia untuk melakukan kebaikan, dan mencegah pada keburukan.