name='description'/> Makna Dakwah Dalam Jurnalistik | Un-de-fined Cendekia

Pages

Sabtu, 05 Januari 2013

Makna Dakwah Dalam Jurnalistik



Mungkin kata-kata “Saya ingin berdakwah dalam kegiatan jurnalistik” kedengaran terlalu fanatis. Sejujurnya, ucapan ini tidak seharusnya diumbar-umbarkan, karena justru akan memancing kesalahpahaman dari orang lain.
Dari sekian ratus pengertian dakwah yang mengatakan “Dakwah adalah kegiatan mengajak manusia agar kembali pada ajaran islam,” dan lain sebagainya, menurut saya sendiri dakwah memiliki pengertian yang lebih luas daripada itu. Dakwah adalah kegiatan mengajak manusia untuk melakukan kebaikan, dan mencegah pada keburukan.
 “Jangan buang sampah sembarangan” atau “Ayo kita pelihara baik-baik bumi ini” merupakan salah satu dari dakwah juga. Sama sekali tidak mengindikasikan ada unsur religiusitas di dalamnya, hanya tentang suatu usaha bagaimana menggerakkan manusia untuk berbuat baik, dan menjauhi keburukan.
Ketika ada ucapan “Saya ingin berdakwah dalam kegiatan jurnalistik”, ucapan ini tidak bisa hanya di lihat dari perspektif islam saja. Menurut saya, berdakwah dalam jurnalistik berarti menyebarkan berita seluas-luasnya dengan tujuan agar orang-orang mendapat kesadaran untuk berbuat baik, dan menjauhi keburukan ketika membaca berita.
Dengan kata lain, dakwah dalam jurnalistik menyiratkan janji untuk hanya menulis berita yang akan membawa pada kebaikan, dan bukan menimbulkan efek yang buruk bagi orang-orang. Berita yang dihadirkan dalam kegiatan jurnalistik ini merangsang orang lain yang membacanya untuk sebisa mungkin turut berbuat baik terhadap sesama.
Maka meskipun terdapat berita yang mengambil prinsip bad news is a good news, hal ini tidak berarti menjadi alasan untuk mendoktrin masyarakat untuk ikut serta dalam keburukan. Hanya saja ini berarti suatu antisipasi agar masyarakat berhati-hati dalam menghadapi situasi buruk, dan agar masyarakat bisa membedakan yang mana moral yang baik, dan yang buruk.
Barangkali saya salah memahami dakwah, tapi yang saya pahami ini hanya sebagai usaha saya untuk bertoleransi terhadap sesama manusia. Kita tidak bisa terus menerus mengatasnamakan agama dalam setiap tindakan kita. Karena toh hal ini terkadang malah membawa kita pada jurang perbedaan yang semakin lebar, dan membuat perseteruan-perseteruan tentang SARA yang tidak ada habisnya.
Yang perlu dipahami adalah bagaimana cara kita membawa manfaat untuk kehidupan di dunia ini terhadap diri kita serta orang banyak, dan bukan tentang cara-cara untuk men-superiorkan sebuah agama di atas agama lain. Barangkali kita memang bukanlah manusia-manusia yang baik, tapi dengan melakukan perbuatan baik, setidaknya kita telah berusaha menjadi orang yang baik.
Dengan terus menimbun banyak kebaikan, kebaikan ini pulalah yang suatu saat akan mengubah dunia ini ke arah yang lebih baik. Amin.

1 komentar:

  1. Bagus ih naya . . . lebih rapih dari yg punya ojak hehehe :)

    BalasHapus