name='description'/> Mengejar mimpi = Idealis ?? | Un-de-fined Cendekia

Pages

Sabtu, 05 Januari 2013

Mengejar mimpi = Idealis ??



“Kejarlah ilmu demi ilmu, jangan mengejar ilmu demi uang”
 
That’s simple word. Pertama kali membaca kata-kata ini, saya dibuat terpekur untuk mendalami makna yang terkandung dalam setiap kata-katanya. Kata-kata ini merujuk pada fakta bahwa terkadang orang-orang masih terlalu fanatis terhadap simbol, ketimbang memaknai simbolnya itu sendiri.
Well, ini tentang bagaimana adat masyarakat dalam menuntut ilmu. Kenyataannya, masih banyak orang yang menuntut ilmu hanya untuk mengejar sertifikat dan ijazah, sementara orientasi mereka dalam mendalami tahun-tahun menuntut ilmu itu sendiri kosong. Mungkin ini disebabkan karena adanya ideologi kapitalis yang terus bercokol dalam kehidupan masyarakat.
Bagaimana tidak? Saat ini rasanya kita dipenuhi pikiran untuk mencari uang dalam memenuhi kebutuhan lahiriah kita. Untuk itu, kita bahkan rela menggadaikan mimpi kita untuk dapat memenuhi hal-hal materialistis tersebut. Lalu bagaimana kita memenuhi kebutuhan batiniyah kita jika kita sibuk mengejar hal materialistis??
Memang kejam dan ironis melihat bagaimana kita harus mengorbankan impian kita untuk bisa keep survive di era globalisasi ini. Betapa banyak orang-orang yang berbondong-bondong masuk jurusan Jurnalistik, Sastra Inggris, or others hanya untuk berakhir bekerja di sebuah bank. Lalu dimana esensinya perjuangan kita bertahun-tahun menuntut ilmu kalau pada akhirnya kita berhenti di satu hal yang tidak ada hubungannya dengan impian, atau lebih jauh lagi, dengan tujuan kita. Dan sebaliknya, betapa terkadang ada orang yang bisa menafkahi batinnya dengan bekerja sesuai impiannya, tapi tidak bisa memunuhi kebutuhan lahirnya.
Maka, tanpa sadar terbentuk begitu saja paradigma dalam masyarakat bahwa mengejar impian itu hanya untuk orang-orang idealis. Kini, banyak ucapan-ucapan miring seperti, “ah, ngapain masuk sih masuk jurusan A? Mending masuk jurusan B, cari kerjanya gampang,”. Memang sih, itu bukan kata-kata yang sepenuhnya negatif. Tapi toh kata-kata tersebut terkadang diucapkan tanpa melihat potensi sebenarnya dari orang yang ditanya.
Kalau kita, secara penuh, terus-menerus dikejar dan dituntut untuk memenuhi kebutuhan materialistis, apa bedanya kita dengan robot? Hanya bekerja tanpa memenuhi kebutuhan batiniyah diri kita sendiri. Lalu apa gunanya hal-hal bernama mimpi, cita-cita, dan keinginan, sementara kita pada akhirnya harus membuang semua mimpi tersebut demi semua hal materialistis?
Hey, we forget that money is not anything! Bukan bermaksud bersikap sinis, tapi menurut saya orang-orang seperti ini tidak percaya pada kekuatan tersembunyi dalam suatu usaha keras. Mungkin karena kapitalisme sudah menggerogoti seluruh aspek kehidupan mereka. Jika kita memiliki suatu keinginan dan impian, just go for it! Fokuslah pada cita-cita tersebut. Fokus dalam menuntut ilmu, dan mencari segala hal yang bisa kita eksplor untuk mencapai cita-cita kita ke depannya. Pada akhirnya, jika kita sudah benar-benar ahli dalam bidang yang kita sukai, kesuksesanlah yang mengejar kita, bukan sebaliknya.
Untuk apa ketakutan memiliki mimpi di dunia kapitalis ini? Toh memperjuangkan mimpi atau tidak, kita tetap harus berusaha dan bertahan dalam persaingan untuk keep survive di dunia ini. Yang membedakan hanyalah, jika kita memiliki passion dan mimpi, batin kita tidak mati dan tidak larut dalam kegersangan dalam mencari uang.
Cause we do what we like, and we have something to be reached.

5 komentar:

  1. like this, Bagus . . . . ojak harus berguru sama naya :)

    dasar si hantu intelek . . menghanti tiap detik hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. siapa yang harus berguru ke siapaa?? -,-
      merendah untuk meroket terus hehe

      Hapus
  2. ada pepeatah inggris menngatakan. there are two ways how to be rich. You can run and chase the money, or just stand there and be thankful.

    kadag heran juga. waktu kecil kita di tanya apa cita-cita,tapi sudah besar, yangmerupakan saatnya kita mewujudkan, tapi cita-cita itu malah diajarkan untuk dilepaskan begitu saja dengan aasan yang mereka anggap realis (padahal cendrung ke pesimis).

    tapi, Nay. Biasanya yang berbicara dan hanya senang mengkritik (yg tidak penting), mereka biasanya hanya brdiri disana, they will go nowhere.

    come fight for our dreams!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang naya pikir, mungkin itu karena kurangnya pemahaman terhadap apa yang terbaik buat kita sendiri. Yang terbaik itu apa? Bahagia? But money is not always the answer for happiness,
      Yeah, who knows ..

      Hapus
    2. "If you do what you need, you’re surviving. If you do what you want, you’re living." unknown.
      "People die at 25 and arent buried till they are 75." benjamin Franklin.

      Hapus