name='description'/> Antara Fungsi Agen Perubahan Dan Dakwah | Un-de-fined Cendekia

Pages

Minggu, 27 Oktober 2013

Antara Fungsi Agen Perubahan Dan Dakwah


Jika melihat mahasiswa-mahasiswa berdemo di depan rektorat, saya pikir mereka merupakan kerumunan yang tidak bermetode. Maaf jika kata-kata tersebut terlalu kasar. Faktanya, hanya 3-5 orang diantara mereka yang memahami tujuan demo tersebut, sementara yang lainnya hanyalah orang-orang yang digusur agar mau ikut berdemo.
Saya akui kekritisan mereka. Mereka orang-orang yang menginginkan perubahan dan tak akan tinggal diam melihat ketidakadilan. Hanya saja, menurut saya ada banyak sekali cara yang lebih baik untuk menuntut sebuah perubahan. Disinilah kemudian LPM memberi andil.

Kakak kelas SMA saya dulu pernah mengatakan bahwa ada dua tipe mahasiswa yang cerdas: pertama, mereka yang menginginkan perubahan akan tetapi tidak memberi solusi apa-apa (saya contohkan seperti para pendemo yang diceritakan di atas); kedua, mereka yang menginginkan perubahan dan tahu bagaimana seharusnya perubahan tersebut dijalankan.
Bagi saya, tipe kedua ditujukan untuk LPM. LPM merupakan lembaga yang mewadahi orang-orang yang juga menginginkan perubahan. Mereka tahu bagaimana melakukan perubahan tersebut. Mereka menulis. Tidak sekadar menulis kritik-kritik mengenai lingkungan di sekitarnya. Itu sih apa bedanya dengan para pendemo tadi!
Tulisan mereka tidak sekadar memaparkan kritik, tapi mereka juga menyampaikan solusi atas permasalahan tersebut. Berbeda dengan demo, dimana yang mengerti masalahnya hanyalah orang-orang yang melakukan demo sementara orang-orang di sekitarnya hanya bisa menonton dan pura-pura mengerti, LPM mengajak khalayaknya untuk mengerti dan memahami apa yang sedang mereka kritisi.
Tidak hanya itu, objek dari tulisan tersebut pun luas. Mulai dari para mahasiswa, dosen-dosen, aparatur rektorat, sampai para pelaku yang LPM kritisi. Luar biasa bukan? Ini menjadikan semua orang melek terhadap realitas yang ada. Semua orang pada akhirnya terpengaruh secara kognitif, afeksi, bahkan sampai behavioural untuk ikut mengkritisi kondisi yang ada dan sama-sama membangun solusi.
Desakan-desakan LPM untuk melakukan perubahan ini pada akhirnya akan membuat para pelakunya bergerak menanggapi dan mengatasi kondisi yang dipersoalkan. Kita lihat saja fakta sejarah, dimana para mahasiswa menjadi motor tumbangnya rezim presiden Soeharto. Pada akhirnya, berkat perjuangan mahasiswa pula lah era reformasi bergulir.
Melakukan Reformasi dengan Dakwah
Tak jauh beda dengan fungsinya sebagai agen perubahan, LPM erat kaitannya dengan kegiatan dakwah. Oke, jangan anggap ungkapan ini sebagai hal yang fanatis terhadap agama. Sebelum saya jelaskan lebih lanjut, kita simak bagaimana bunyi QS. Ali-Imron: 104.
104. dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa yang dimaksud dakwah adalah segala sikap yang ditujukan untuk mengajak kepada kebaikan, dan mencegah kepada kemunkaran. Jika saya geser konteksnya ke fungsi LPM, maka ini lah yang seharusnya dilakukan oleh LPM. Ia berjuang menggerakkan penanya untuk mengajak khalayaknya menuju suatu perubahan yang lebih baik, dan tentunya mencegah juga menolak adanya tindak ketidakadilan.
Kita tidak sedang berbicara mengenai hal-hal dogmatis mengenai surga dan neraka. Kita berbicara mengenai bagaimana keadilan dan kebaikan itu ditegakkan dengan menerapkan ayat ini. Yang perlu dipahami adalah bagaimana cara kita membawa manfaat untuk kehidupan di dunia ini terhadap diri kita serta orang banyak, dan bukan tentang cara-cara untuk mensuperiorkan sebuah agama. Barangkali kita memang bukanlah manusia-manusia yang baik, tapi dengan melakukan perbuatan baik, setidaknya kita telah berusaha menjadi orang yang baik.
Dengan kata lain, dakwah dalam jurnalistik menyiratkan janji untuk hanya menulis berita yang akan membawa pada kebaikan, dan bukan menimbulkan efek yang buruk bagi orang-orang. Berita yang dihadirkan dalam kegiatan kejurnalistikan LPM ini merangsang orang lain yang membacanya untuk sebisa mungkin turut berbuat baik terhadap sesama.
Maka meskipun terdapat berita yang mengambil prinsip bad news is a good news, hal ini tidak berarti menjadi alasan untuk mendoktrin masyarakat untuk ikut serta dalam keburukan. Hanya saja ini berarti suatu antisipasi agar khalayak berhati-hati dalam menghadapi situasi buruk, dan agar khalayak bisa membedakan yang mana moral yang baik, dan yang buruk.
Disinilah terlihat bagaimana pentingnya LPM menulis. LPM yang didalamnya terdapat mahasiswa-mahasiswa yang merasa memiliki tanggungjawab dalam mengabdi kepada masyarakat dituntut untuk dapat berpikir dengan jiwa intelektualnya agar dapat bermanfaat bagi masyarakat. Melalui tulisan-tulisan ini lah kemudian LPM menyalurkan suara-suara perubahannya ke publik. Tak semua orang memiliki pemikiran intelektual dan jiwa kritis. Maka disinilah LPM menampung orang-orang tersebut.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar