name='description'/> Memberi Uang Pada Pengemis? No Way! | Un-de-fined Cendekia

Pages

Kamis, 24 Oktober 2013

Memberi Uang Pada Pengemis? No Way!



Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, saat ini sedang ramai-ramainya mengampanyekan ‘tidak memberi uang pada pengemis’. Tentunya gerakan ini didukung oleh warga Bandung yang notabene sudah jengah oleh tingkah pengemis yang semakin pongah. Sebelumnya, Ridwan Kamil pernah bernegosiasi dengan para pengemis untuk berganti profesi menjadi Petugas Kebersihan dengan gaji Rp.700.000 per bulan. Namun, tawaran ini ditolak mentah-mentah para pengemis yang menuntut Emil untuk menggaji mereka 3-10 juta per bulan. Crazy or something??

Sedikit penjelasan, pengemis-pengemis ini rupanya bisa memiliki penghasilan lebih dari 3.000.000 per bulannya. Umpamakan saja lampu merah menyala 200 kali dalam satu hari, dan uang yang mereka dapat tiap lampu merah adalah Rp. 1000, maka uang yang mereka dapat per hari adalah Rp. 200.000. Wow.
Lawan Kemalasan!
Yang perlu dipahami dari gerakan ini adalah bahwa kita memupuk kepedulian kita dengan tidak membiarkan mereka terlena dengan kemalasan. Lihat saja faktanya. Di saat orang lain banting tulang bekerja menjadi pemulung atau tukang sampah, orang-orang ini malah sibuk tidur dan hanya mengemis jika kehabisan uang.
Yang lebih parah adalah jika kita memberi uang pada anak-anak. Pikirkan baik-baik, apabila kita memberi uang pada mereka, mereka tidak merasa perlu bersekolah karena bisa mendapat ‘kepuasan’ dengan mengemis.
Jika ingin memberi, berilah pada mereka yang memiliki pekerjaan namun mendapat upah yang minim. Kita bisa memberikan upah lebih banyak atau sekadar makanan pada pemulung atau tukang sampah. Jangan malas untuk memberikan sedikit dari harta kita kepada mereka yang berhak.
Jika kita malas memberi pada yang berhak, kita juga memupuk kemalasan yang semakin besar kepada para pengemis. Dan akan semakin memperlebar jurang stratifikasi antara kemiskinan dan kekayaan. Ingat, menjadi pengemis adalah pilihan mereka. Tapi ingat pula bahwa hak dan pilihan kita untuk tidak memberi. Kalau kita berhenti memberi, logikanya mereka pun akan berhenti mengemis karena tidak mendapat penghasilan
Kotamadya Bandung  sendiri sudah membentuk Perda Nomor 03 tahun 2005 pasal 39a tentang  larangan menggelandang/mengemis di tempat dan di muka umum serta fasilitas sosial lainnya serta pasal 39c  tentang larangan mengamen, mencari upah jasa dari pengelapan mobil dan usaha lainnya di simpang jalan, lampu merah. Bagi pelanggar akan terkena ancaman pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan dan atau denda paling banyak Rp 50 juta.
Nah, masih juga memberi uang kepada pengemis? Stop It, Guys!

2 komentar:

  1. Da Ridwan Kamil mah ari ka pengemis-orang yg tidak mampu-melarang. Ari ka masyarakat biasa, ngabagi-bagi Rp. 50. 000 pas kampanye.

    Selama masih ada sistem itu mah ya, perbaiki diri heula we kitu Pak Ridwan Kamil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wajar, yon, dia bukan dari partai mana-mana. Indipendent, jadi rada sulit kalau berjuang sendiri. Tapi kan niatnya bagus. dia jadi walikota emang untuk memperbaiki kota bandung. Buktinya sekarang ada peningkatan. bahkan ahok yang wagub bilang kalo DKI Jakarta jauh tertinggal dari Kota Bandung. Bukankah itu WOW? mengingat Ibukota yang merupakan Provinsi dikalahkah oleh hanya Kota Madya, ibu kota provinsi.

      Hapus