name='description'/> Ego Para Buruh | Un-de-fined Cendekia

Pages

Rabu, 20 November 2013

Ego Para Buruh



Jadi hari Rabu 20 November 2013 kemarin, saya melewati Jl. Soekarno-Hatta Bandung sehabis pulang kuliah. Saat itu ternyata sedang diadakan demo besar-besaran buruh dari seluruh Jawa Barat di Kantor Kementrian Tenaga Kerja. Para demonstran ini dengan tidak tahu dirinya parkir kendaraan mereka (motor, mobil, dan bis) sembarangan di pinggir jalan. Bahkan yang lebih parah, mereka memblokade salah satu ruas jalan untuk dijadikan tempat berunding (mereka membarikade kendaraan mereka dan membuat ruang luas di tengahnya). Alhasil, kemacetan pun tak dapat dihindarkan sampai sejauh radius 3 kilometer. What a selfish way to demand their rights, rite?
Nah, cara mereka menuntut hak benar-benar tidak bisa dianggap bijak. Menggunakan fasilitas umum secara sembarangan dan merugikan orang lain? Hei! Melihatnya saja, orang lain mana mau prihatin dengan kondisi para buruh. Dari puluhan ribu buruh yang datang saat itu, mereka bisa saja melumpuhkan stabilitas kerja kantor-kantor yang ada di sekitarnya; mulai dari waktu, transaksi perdagangan, dan kegiatan lainnya yang jumlah SDM-nya bisa mencapai ratusan ribu orang.

Oke, memang wajar menuntut kenaikan upah pertahun. Tapi bahkan ketika saya membaca berita-berita tentang demo buruh ini, saya dibuat kaget karena mereka menuntut gaji sampai 70%. Luar biasa. UMP Jawa Barat yang saat ini bernilai 2 juta saja sudah cukup tinggi dibanding provinsi lain. Saya perhatikan, harga komoditi di daerah-daerah relatif sama, menjadikan alasan para buruh “kesulitan membeli bahan pokok dengan gaji segitu” sangat tidak rasional. Tentunya orang-orang seperti buruh bangunan atau tukang sampah yang digaji lebih kecil dari buruh pabrik, akan bersungut-sungut karena keegoisan para buruh pabrik yang tidak bersyukur dengan apa yang mereka dapat.
Mari kita sedikit merenungi kejadian ini. Apa menurut mereka, perusahaan dapat menaikkan gaji mereka sebesar 70%, sementara laju ekonomi hanya naik 6%? Pemerintah sebagai pemegang regulasi pastilah tidak mampu memaksa para pengusaha untuk menaikkan gaji diluar kapasitas finansial mereka. Jika salah langkah, justru mereka sendiri yang akan gulung tikar dan dapat merugikan buruh itu sendiri.
Bahkan jika permohonan kenaikan gaji buruh dipenuhi, otomatis perusahaan akan menaikkan harga produk mereka yang berimbas pada naik pula harga kebutuhan buruh. Karena toh pada dasarnya konsumen perusahaan juga termasuk buruh-buruh tersebut. Gaji naik pun percuma, jika kebutuhan mereka semakin meningkat. Tentunya jika semua jenis pabrik dituntut untuk menaikkan gaji buruh, maka semua elemen kebutuhan hidup pun tergantung pada harga yang ditetapkan perusahaan-perusahaan ini.
Dan bayangkan jika pada akhirnya perusahaan tersebut mengatur strategi agar biaya produksi tidak semakin tinggi karena menyesuaikan dengan gaji karyawan. Apa yang kira-kira akan dilakukan? Tentu saja dengan mengurangi jumlah karyawan! Dan ini akan semakin merugikan kondisi buruh, dan membuat mereka kehilangan pekerjaan mereka. Apakah buruh-buruh ini tidak berpikir sampai kesana? Saya rasa memang wajar menuntut gaji lebih tinggi, namun kita juga harus memperhatikan kondisi lain yang jauh lebih besar imbasnya jika kita hanya egois atas keinginan kita sendiri.
Buruh, pemilik perusahaan, dan orang-orang lainnya di Indonesia toh sama-sama sedang mengais rizki. Mari kita perbaiki dulu kualitas diri, dan kualitas kerja kita yang pasti akan menguntungkan perusahaan, dan akan menjadi bahan pertimbangan mereka untuk menggaji kita lebih besar. Sesuatu yang dilakukan dengan baik, pasti akan menghasilkan yang baik pula. Rasanya, cara meminta paksa dengan berdemo tak tahu aturan bukanlah cara yang bijak, apalagi jika tanpa pemikiran matang.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar