name='description'/> [Review] Edensor, Oh-So-Dissapointed Film :( | Un-de-fined Cendekia

Pages

Selasa, 24 Desember 2013

[Review] Edensor, Oh-So-Dissapointed Film :(



So guys, kemarin saya nonton Edensor bareng temen. This is one of movies i really wait! Berhubung saya impressed sekali sejak awal dengan novel-novelnya Andrea Hirata, mulai dari Tetralogi Laskar Pelangi, Cinta Dalam Gelas, atau Sebelas Patriot, of course saya ga akan melewatkan buku Edensor (buku ketiga Tetralogi Laskar Pelangi)  yang difilmkan ini.
Buar kalian yang belum tahu, Edensor bercerita tentang perjuangan Ikal dan Arai menuntut ilmu di Sorbonne University, Perancis. Mereka yang hanya anak Belitong biasa diharuskan membiasakan diri hidup di negeri orang yang berbeda kultur dengan Indonesia. Perancis merupakan pijakan awal mereka untuk meraih cita-cita berkeliling Eropa. Cita-cita ini tertancap dalam diri Arai dan Ikal sejak SMA, yang terinspirasi Guru SMA mereka, Pak Balia.

Dari ulasan super singkat saya, pasti kalian mengendus bau petualangan jika membaca kata ‘berkeliling Eropa’. Benar sekali. Dalam buku, memang dijelaskan bagaimana petualangan Arai dan Ikal backpacking keliling Eropa (dan bahkan Afrika) dengan mengamen menjadi ikan duyung. Pemaparan Andrea dalam buku benar-benar keren, dan saya tak sabar imajinasi saya mengenai Edensor tervisualisasikan dalam film.
Tapi yang terjadi adalah, saya kecewa berat dengan film ini.
Saya harus memaklumi sih, kebanyakan buku yang difilmkan tak pernah selalu sesuai dengan isi buku. Kita bisa lihat film-film seperti Harry Potter, Angel and Demons, atau 99 Cahaya di Langit Eropa yang baru-baru ini tayang. Tapi guys, saya kecewa dua kali lipat dengan film Edensor ini.
Alasannya: pertama, sutradara kurang bisa memvisualisasikan isi buku. Dalam Edensor, Andrea benar-benar memikat pembacanya dengan pendeskripsian tokoh-tokoh. Misalnya ketika Andrea bercerita tentang orang-orang yang berpengaruh dalam hidupnya, ia secara runtut menjelaskan bagaimana karakter Weh, atau kisah hidup Arai yang menyedihkan. Atau cara Andrea menggambarkan karakter teman-temannya di kelas, mengenai Katya, Pathetic Four, dan geng lainnya.
Dalam film, sifat-sifat orang ini hanya diceritakan melalui obrolan si tokoh. Ya ampun, ga ngena banget. Misalnya soal Weh, orang awam pasti bertanya-tanya ‘Weh itu siapa? Kenapa tiba-tiba masuk ke cerita?’. Ini dikarenakan cerita-cerita masa lalu Ikal diceritakan secara acak, dan kesannya ga nyambung serta asal masuk scene. Atau ketika Arai bercerita ia adalah Simpai Keramat. Kejadiannya hanya diceritakan langsung oleh Arai, bikin kurang greget dan ga menggambarkan eratnya hubungan Arai dan Ikal.
Kedua, isi cerita diobrak-abrik. Mulai dari cerita Ikal dan Arai yang bertengkar karena Ikal sibuk menjalin kasih dengan Katya. Juga ketika Ikal mencari jejak dan sering berpapasan dengan A Ling di Perancis yang kesannya memaksakan. A Ling dikisahkan hidup di Paris bertahun-tahun, dan masih mencintai Ikal. Ikal mengetahui fakta tersebut dari A Kiong, saudara A Ling yang menemukan surat-surat A Ling yang disembunyikan. Benar-benar terlalu memaksakan, dan bikin perasaan sejati Ikalnya ga terasa.
Ketiga, sutradara memotong 50% isi buku :(. Dan parahnya, part yang dibuang adalah part dimana Ikal dan Arai memulai perjalanan mereka keliling dunia! Ini adalah hal yang paaaaliiingg saya sesalkan. Endingnya selesai begitu saja. Tamat ketika digambarkan Arai dan Ikal bergandengan membawa ransel. Saya sampai bengong dan ga nyangka filmnya berakhir disitu. Teman saya sampai bilang, ‘hah, udah?’ saking kagetnya liat ending yang menggantung. Bahkan tidak diceritakan asal-usul Edensor, yang menjadi dasar dibuatnya cerita ini. Padahal menurut saya, part ketika Ikal akhirnya menemukan Edensor adalah part yang paling manis. Sayang sekali!
Diantara kekurangan tersebut, saya tetap acungi jempol deh buat Lukman Sardi dan Abimana sebagai pemeran utama. Chemistry mereka dapet banget, dan natural. Apalagi dialog mereka berdua dengan pemeran asing yang kebanyakan disampaikan dalam bahasa Perancis yang memikat. Keren.
Saya kira, dari review saya tadi saya tidak akan memasukkan film ini sebagai must-watch movie. Mungkin lebih baik jika saya rekomendasikan bukunya saja. Hikmah dalam buku tersebut adalah mengenai betapa pentingnya seseorang memiliki cita-cita. Tanpa cita-cita, kita hanya seonggok daging yang berjalan. Sekeras apapun rintangan dalam perjalanan menuju cita-cita, pada akhirnya kita akan meraup indahnya keberhasilan jika kita benar-benar mau mewujudkannya.

2 komentar:

  1. Seperti kata pepatah: "Don't judge a book by its movie..."
    :P

    BalasHapus
  2. atau kebalik, don't judge a movie by its book -,-
    bener2 film yang mengecewakan .. -,-

    BalasHapus