name='description'/> Januari 2013 | Un-de-fined Cendekia

Pages

Senin, 07 Januari 2013

BiSNIS ONLINE: UNTUNG DITENGAH PERILAKU KONSUMTIF MASYARAKAT



Seiring dengan semaraknya globalisasi yang selalu digaungkan di seluruh dunia saat ini, rakyat Indonesia seakan tak mau kehilangan momen globalisasi ini. Menurut survey yang dilakukan Nielsen tahun 2011, selama lima tahun terakhir tingkat konsumsi internet masyarakat Indonesia meningkat sampai 22%. Hal ini berkaitan dengan semakin mudahnya akses informasi yang canggih untuk didapatkan.
Mengamati hal ini, para produsen melihat suatu peluang bagi mereka untuk memanfaatkan euforia internet di Indonesia sebagai salah satu media pemasaran mereka. ‘Bisnis Online’, begitulah mereka menamai strategi pemasaran mereka. Bisnis-bisnis ini semakin banyak diminati oleh para pengguna internet. Dengan membuat website, mereka dapat melakukan aktivitas penjualan mereka. Tidak hanya itu, bisnis online ini berkembang dengan terus mengaktifkan diri di dunia blogging, bahkan jejaring sosial, seperti facebook atau twitter.

Bill Kovach: Wartawan Tak Luput Dari Kesalahan



Kisah inspiratif ini datang dari wartawan yang terkenal dengan buku Sembilan Elemen Jurnalisme-nya, Bill Kovach. Pada perilisan bukunya di Medan, ia bercerita mengenai pengalamannya dalam menulis essay tentang Charles Longstreet Weltner dalam buku Profile in Courage for Our Time.
Dalam essay tersebut, ia menjelaskan tentang sosok Weltner, salah satu anggota Kongres Georgia yang terkenal berani. Karena keberaniannya, ia pernah mendapat penghargaan John F. Kennedy Profile in Courage Award yang menghargai sikapnya pada tahun 1966 dalam menentang partainya sendiri yang mencalonkan Maddox, seorang rasialis, sebagai Gubernur Georgia.

Sabtu, 05 Januari 2013

Mengejar mimpi = Idealis ??



“Kejarlah ilmu demi ilmu, jangan mengejar ilmu demi uang”
 
That’s simple word. Pertama kali membaca kata-kata ini, saya dibuat terpekur untuk mendalami makna yang terkandung dalam setiap kata-katanya. Kata-kata ini merujuk pada fakta bahwa terkadang orang-orang masih terlalu fanatis terhadap simbol, ketimbang memaknai simbolnya itu sendiri.
Well, ini tentang bagaimana adat masyarakat dalam menuntut ilmu. Kenyataannya, masih banyak orang yang menuntut ilmu hanya untuk mengejar sertifikat dan ijazah, sementara orientasi mereka dalam mendalami tahun-tahun menuntut ilmu itu sendiri kosong. Mungkin ini disebabkan karena adanya ideologi kapitalis yang terus bercokol dalam kehidupan masyarakat.
Bagaimana tidak? Saat ini rasanya kita dipenuhi pikiran untuk mencari uang dalam memenuhi kebutuhan lahiriah kita. Untuk itu, kita bahkan rela menggadaikan mimpi kita untuk dapat memenuhi hal-hal materialistis tersebut. Lalu bagaimana kita memenuhi kebutuhan batiniyah kita jika kita sibuk mengejar hal materialistis??
Memang kejam dan ironis melihat bagaimana kita harus mengorbankan impian kita untuk bisa keep survive di era globalisasi ini. Betapa banyak orang-orang yang berbondong-bondong masuk jurusan Jurnalistik, Sastra Inggris, or others hanya untuk berakhir bekerja di sebuah bank. Lalu dimana esensinya perjuangan kita bertahun-tahun menuntut ilmu kalau pada akhirnya kita berhenti di satu hal yang tidak ada hubungannya dengan impian, atau lebih jauh lagi, dengan tujuan kita. Dan sebaliknya, betapa terkadang ada orang yang bisa menafkahi batinnya dengan bekerja sesuai impiannya, tapi tidak bisa memunuhi kebutuhan lahirnya.

Resensi Buku “Terapi Berpikir Positif”




Judul Buku       : Terapi Berpikir Positif
Penulis              : Dr. Ibrahim Elfiky
Penerbit            : Penerbit Zaman
Tahun Terbit     : 2012, cetakan ke-27
Halaman           : 347 halaman
Harga               : Rp. 54.000
Ikhtisar
Buku ini berbicara mengenai bagaimana cara untuk mengaktifkan potensi kekuatan pikiran. Dengan potensi ini, manusia dapat terbebas dari belenggu pikiran negatif, dan menjadi pribadi yang penuh semangat, percaya diri dan optimis.
Pengoptimalan potensi ini di press dengan optimal, karena tidak banyak orang tahu bagaimana cara menjadikan kekuatan pikiran menjadi hal yang bermanfaat untuk kehidupan kita. Ini sangat penting dalam pembentukan fokus dalam membangun aspek-aspek dalam mencapai cita-cita yang lebih cerah, dan sukses.

Makna Dakwah Dalam Jurnalistik



Mungkin kata-kata “Saya ingin berdakwah dalam kegiatan jurnalistik” kedengaran terlalu fanatis. Sejujurnya, ucapan ini tidak seharusnya diumbar-umbarkan, karena justru akan memancing kesalahpahaman dari orang lain.
Dari sekian ratus pengertian dakwah yang mengatakan “Dakwah adalah kegiatan mengajak manusia agar kembali pada ajaran islam,” dan lain sebagainya, menurut saya sendiri dakwah memiliki pengertian yang lebih luas daripada itu. Dakwah adalah kegiatan mengajak manusia untuk melakukan kebaikan, dan mencegah pada keburukan.