name='description'/> Mana Zero Tolerance Bagi Terpidana Narkoba? | Un-de-fined Cendekia

Pages

Rabu, 12 Februari 2014

Mana Zero Tolerance Bagi Terpidana Narkoba?


Pada tanggal 10 Februari lalu, Shcapelle Leigh Corby mendapatkan hadiah istimewa dari pemerintah Indonesia. Hadiah ini dipersembahkan setelah Corby menjalani hukuman sejak tahun 2004 lalu. Ya, hadiah itu adalah kebebasan. Kebebasan itu didapat setelah sebelumnya Corby berusaha meminta Grasi (yang dikabulkan) pada Presiden SBY, dan juga beberapa keringanan remisi yang didapatnya selama mendekam di Lapas.
Ini dia yang sejak dulu dipermasalahkan oleh masyarakat. Kemana pemerintah yang katanya menghukum tegas terpidana narkoba? Bahkan Presiden SBY pun sempat menyatakan dalam pidatonya pada Hari Peringatan Anti Narkoba, untuk lebih agresif dalam memberantas narkoba. Ia sendiri mengusulkan untuk mengadakan zero tolerance.

Teori Zero Tolerance sendiri merupakan kelanjutan dari Teori Broken Windows untuk mengantisipasi kejahatan dengan setegas-tegasnya. Asumsinya adalah jika terdapat jendela yang pecah, maka yang perlu dilakukan adalah memperbaiki jendela tersebut untuk memperkecil kejahatan. Bila tidak segera diperbaiki, maka hal ini akan mendorong para pelaku kejahatan untuk memecahkan jendela lainnya.
Teori Zero Tolerance berasumsi untuk mengabaikan belas kasihan pada pelaku kejahatan dengan memberlakukan penerapan hukum yang tegas dan tanpa tedeng aling-aling. Dengan demikian, adanya kenihilan toleransi ini akan membuat jera dan tidak memancing kejahatan lain di belakangnya.
Nah, sekarang kita tinjau terlebih dahulu kasus narkoba yang katanya ingin di-zerotolerance-kan. Pengguna narkoba di Indonesia saat ini berkisar antara usia 11-24 tahun. Pernah mendengar kata-kata “Narkoba merusak moral bangsa”? Itu benar sekali lho. Tidak hanya aspek medis para penggunanya saja yang dipertimbangkan, namun juga berkorelasi erat dengan lingkungan sosial.
Banyaknya kasus penyalahgunaan narkoba tentu akan berimbas pada perilaku para penggunanya yang semakin memburuk. Otomatis akan memancing para pengguna untuk melakukan tindakan kriminal lain, seperti mencuri. Tidak hanya itu, sempat ditemukan fakta bahwa penyebab adanya tawuran pelajar adalah karena dimotori oleh penyalahgunaan narkoba. Menilik hal ini, tentu banyak orang akan terkena akibatnya dengan semakin banyaknya kriminal tawuran yang meresahkan warga.
Kerusakan moral yang kian meluas akan mengakibatkan para penghuni di lingkungan tersebut merasa terbiasa dengan kerusakan tersebut. Apa akibatnya jika semua lapisan masyarakat pada akhirnya terbiasa dengan terkikisnya moral? Buruk sekali. Jika tidak ditindak dengan tegas, maka kita hanya tinggal menunggu kehancuran bangsa kita.
Maka apa lagi yang diperlukan? Kita. Kitalah yang seharusnya membangun kesadaran untuk mendidik adik atau anak kita ke jalan yang benar. Kepedulian antar sesama akan melahirkan bentuk baru dari kesejahteraan. Namun yang tak kalah pentingnya adalah peran pemerintah.
Pemerintah seharusnya bisa mempertimbangkan masak-masak akibat dari membiarkan masalah narkoba berlarut-larut. Jika terus seperti ini, generasi muda berkualitas pun akan perlahan menghilang. Janji pemerintah untuk menindak tegas terpidana narkoba pun seakan hanya ketegasan di atas kertas semata. Sekarang kita yang bertanya-tanya, apakah hubungan politik jauh lebih penting daripada mengupgrade kualitas diri rakyat? Kita malah membiarkan para terpidana hidup enak, yang katanya kasus Corby ini adalah satu-satunya kasus narkoba dimana terpidana begitu diistimewakan.
Bahkan kabarnya setelah bebas bersyarat pun, Corby menjalani hidup mewah setelah dijanjikan uang 5 juta Dollar Australia. Ia bahkan telah menekan kontrak film mengenai kisah hidupnya yang kabarnya justru mendiskreditkan Indonesia. Pada akhirnya setelah adanya grasi, dan aspek politis lain yang begitu ‘murah hati’, kita pula yang akan menelan semua ejekan bangsa lain mengenai ketidaktegasan kita.
Mungkin kasus Corby ini sudah sesuai dengan hukum yang berlaku. Tapi pemerintah tampaknya tidak mempertimbangkan aspek keadilan masyarakat dan aspek yang sesuai dengan semangat perang melawan narkoba tanpa ampun yang pernah diserukan sendiri oleh Presiden SBY. Sesuaikah? Pemerintah bisa menilai sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar