name='description'/> [Review] Inferno By Dan Brown, Visi Neraka Bagi Pecinta Kehidupan | Un-de-fined Cendekia

Pages

Sabtu, 22 Maret 2014

[Review] Inferno By Dan Brown, Visi Neraka Bagi Pecinta Kehidupan


Halo readers!
Setelah sekian lama ga pernah posting, kini saya datang lagi dengan review buku yang katanya The Hottest Book of the Year pada tahun 2013. Jeng, jeng, jeng, ini dia Inferno karya Dan Brown! Kebetulan dua minggu lalu di kampus saya sedang ada bazaar buku, yang kebetulan menjual buku ini dengan harga yang cukup terjangkau.

Alright, buku ini bercerita tentang Robert Landon’s adventure di negeri Florence, Italia. Kisah berawal saat Langdon mengalami cedera kepala yang membuatnya tak ingat mengapa ia datang ke Florence. Dibantu seorang dokter wanita, Sienna Brooks, Langdon berusaha memecahkan misteri biohazard (alat yang digunakan hanya untuk menyimpan zat berbahaya) yang ditemukan di pakaiannya, dan mengumpulkan ingatan mengapa rombongan tentara berusaha menangkapnya.
Dalam perjalanan memecahkan misteri, Langdon sadar ia terjebak dalam suatu skema pemusnahan manusia secara masal oleh seorang jenius. Ia menyusuri sejumlah tempat seni dan bersejarah demi memecahkan kode dalam sebuah naskah Inferno karya Dante Alghieri, sambil terus menghindari tentara yang mengejarnya. Melalui puisi-puisi hitam Dante itu lah, akhirnya Langdon mengetahui dimana alat pemusnah masal disembunyikan.
Ide ceritanya menarik sekali. Masalah umum yang sebenarnya sudah diketahui banyak orang: Overpopulasi. Meski sudah diketahui, tak banyak gerakan ampuh yang mengupayakan penghindaran overpopulasi ini. Dalam buku Inferno dipaparkan bahwa membludaknya jumlah manusia akan semakin mempercepat kehancuran bumi. Yep, sesuai dengan visi kelam Dante mengenai nasib akhir manusia di neraka.
Well, premis dari upaya pemusnahan manusia sendiri adalah agar bumi memiliki jumlah penghuni ideal, yang sesuai dengan kapasitas planet ini untuk ‘melayani’ manusia. Istilahnya, kita mengorbankan ‘beberapa’ kematian demi sesuatu yang lebih besar, yaitu menyelamat manusia dari kepunahan akibat overpopulasi. Sebenarnya ketika saya membaca buku ini, saya agak teringat Dumbledore di Harry Potter’s book dengan visi “Untuk Kebaikan yang Lebih Besar”-nya. Terkadang kita harus berkorban hal yang besar, untuk memperjuangkan hal yang lebih besar. Kira-kira seperti itu intinya.
Saya kira buku ini cukup worth to read, walaupun sebenarnya ada beberapa hal yang agak kurang sreg, tak seperti buku Dan Brown yang lain. Dalam buku disebutkan secara detail sekali mengenai sejumlah karya seni di Florence, dan Divine Comedy karya Dante. Tapi saya pikir, keterkaitan antara visi neraka Dante dengan overpopulasi itu terasa memaksakan.
Masalahnya, pemaparan seni dan sastra Dante yang kontroversial itu tidak berhubungan apa pun dengan upaya si tokoh jahat yang berusaha memperkecil jumlah manusia. Well, mungkin dijadikan sebagai petunjuk, tapi selain itu kita tidak diberi apa-apa karena pada dasarnya keduanya tidak memiliki korelasi yang jelas.
Lain sekali dengan Angel and Demon yang memadukan pertarungan variabel Teknologi dan Agama, dipaparkan dengan konklusi yang jelas karena kedua tema tersebut sama-sama saling mengisi di setiap adegannya. Di Inferno, kita dibuat bingung karena puisi kelam Dante hanya sebagai ‘pengantar’ atau ‘tambahan’ cerita saja. Dan ‘tambahan’ tersebut kurang berarti karena tidak sempurna berpadu dengan isi cerita. Aduh, if you know what i mean .. -__-
Hal positifnya, petualangan dan perspektif dibuat sangat seru oleh Dan Brown. Aksinya bisa dibilang mendebarkan, meski agak flat juga sama pemaparan seninya. Yang spesial tentu dari ide cerita, yang menurut saya sangat dekat dengan permasalahan kita saat ini. Ide overpopulasi menyindir kita sebagai masyarakat dan pihak-pihak tertentu untuk lebih menggiatkan upaya mengurangi pembludakan manusia setiap harinya. Apalagi di Indonesia, overpopulasi justru memancing degradasi moral, karena berarti kita membiarkan orang lain untuk melakukan sex secara bebas.
Yah, that’s it guys. Itu dia pendapat bias saya. Mengenyampingkan semua kekurangan, saya akan memberikan 3 angka untuk buku ini. :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar